Rabu, 28 Desember 2011

Menguak Naskah Laut Mati

inti terpenting dari hasil kajian Naskah Laut Mati : sosok Yesus sebagai seorang manusia, yang menikah (bahkan berpoligami), juga meninggal secara wajar dan bukan ditiang salib, Yesus sebagai sosok manusia yang pernah ada dalam sejarah, dan bukan sosok imajiner yang kemudian di mitoskan dan disembah

Cave 4 containing Scrolls
Naskah Gulungan Laut Mati
Naskah Gulungan Laut Mati Akan Dipublikasikan Secara OnlineGulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang ditampilkan di internet, Senin (26/9).
Pada pertengahan abad 20, sekitar setengah abad yang lalu, terdapat dua penemuan arkeologi yang menggemparkan bagi dunia Kristen. Pertama, penemuan teks Injil Thomas di Nag Hamadi-Mesir pada tahun 1945. Dua tahun setelahnya, 1947, terjadi penemuan kedua berupa gulungan manuskrip di Qumran dekat Laut Mati, yang kemudian dikenal dengan Gulungan Laut Mati (The Dead Sea ScroIIs).Bagi sebagian orang, dua peristiwa besar ini juga penemuan-penemuan arkeologis Iain yang berkaitan-, terkadang disikapi sebagai peristiwa biasa yang menghiasi majalah dan koran-koran di Barat -di Indonesia informasi tentang haI ini amatlah jarang ditemukan-.
Image
Namun jika kita mengikuti perintah Allah dalam al-Qur’an agar kita selalu melihat dan mere*nungkan kejadian di dunia ini, maka dua penemuan itu menjadi hal yang sangat luar biasa, apalagi bagi para pengkaji agama, khususnya bagi mereka yang getol menyuarakan paham pluralisme agama. Sebab dua penemuan tersebut tidaklah berhenti sebatas penemuan arkeologi, namun berlanjut pada kajian-*kajian yang berpengaruh terhadap mainstream kehidupan beragama bagi pemeluk agama tertentu (Kristiani) yang pada gilirannya mempengaruhi hubungan antar agama, khususnya pada kedekatan pemahaman teologis.Kajian-kajian tentang the Dead Sea Scrolls amatlah banyak, diantaranya yang membuat geger dunia Kristen adalah laporan Barbara Theiring, dalam bukunya “Jesus the Man”
Image
Dari penelitiannya selama 20 tahun terhadap naskah Laut Mati, Barbara Theiring mampu menyuguhkan sosok Yesus sebagai seorang manusia, yang menikah (bahkan berpoligami), juga meninggal secara wajar dan bukan ditiang salib. Secara umum, kajian terhadap Naskah Laut Mati, lebih menempatkan Yesus sebagai sosok manusia yang pernah ada dalam sejarah, dan bukan sosok imajiner yang kemudian di mitoskan dan disembah. Setidaknya, inilah inti terpenting dari hasil kajian Naskah Laut Mati.
Cave 4 at Qumran where approximately 15,000 fragments from some 574 manuscripts were found.Clay Jar
Clay jar of the type the Dead Sea Scrolls were found in. From Qumran, now in the Citadel Museum, Jordan
gulungan tersebut merupakan benda yang dibeli oleh para peneliti Israel antara tahun 1947-1967 dari tangan pedagang barang antik, setelah pertama kali ditemukan oleh penggembala Badui di Gurun Yudea
Copyright, Universal Studios
Banyak pihak memperkirakan Gulungan Laut Mati sebagai benda arkeologi paling penting yang pernah ditemukan di abad ke-20. Gulungan ini diperkirakan ditulis atau dikumpulkan oleh sebuah sekte Yahudi yang melarikan diri dari Yerusalem ke Gurun Yudea 2.000 tahun lalu, dan menetap di Qumran yang ada di tepi Laut Mati
Copyrighted photo.
Ratusan naskah yang selamat di gua-gua dekat situs, utuh ataupun tidak, telah menerangi perkembangan Alkitab Ibrani dan asal-usul kekristenan.
.

Apakah Gulungan Laut Mati itu?

Gulungan Laut Mati adalah manuskrip Yahudi kuno, yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani, beberapa dalam bahasa Aramaik, dan sedikit dalam bahasa Yunani. Banyak gulungan dan fragmen ini berusia lebih dari 2.000 tahun, yang berarti dibuat pada masa sebelum kelahiran Yesus. Di antara gulungan-gulungan pertama yang diperoleh dari orang-orang Badui terdapat tujuh manuskrip panjang dengan berbagai tahap kerusakan. Seraya lebih banyak gua diperiksa, ditemukan ribuan gulungan dan fragmen lainnya. Antara tahun 1947 dan 1956, telah ditemukan 11 gua berisi gulungan di dekat Qumran, di kawasan Laut Mati
.
Sewaktu semua gulungan* dan fragmen itu disortir, jumlahnya mencapai sekitar 800 manuskrip. Sekitar seperempat, atau hanya sekitar 200 manuskrip, merupakan salinan dari sebagian naskah Alkitab Ibrani. Manuskrip-manuskrip lainnya adalah tulisan Yahudi non-Alkitab, baik Apokrifa maupun Pseudepigrafa.
^
Beberapa gulungan yang paling menarik bagi para cendekiawan sebelumnya merupakan tulisan-tulisan yang tidak dikenal. Di antaranya terdapat tafsiran hukum Yahudi, peraturan spesifik komunitas sebuah sekte yang tinggal di Qumran, puisi liturgi dan doa, juga karya-karya eskatologi yang menyingkapkan pandangan tentang penggenapan nubuat Alkitab dan hari-hari terakhir. Terdapat pula ulasan Alkitab yang khas, yang merupakan cikal bakal ulasan Alkitab ayat per ayat di zaman modern ini.
 Apa Fakta Sebenarnya tentang Gulungan Laut Mati?
 Lebih dari 50 tahun yang lalu, batu yang dilemparkan oleh seorang gembala Badui ke dalam sebuah gua ternyata memicu apa yang disebut sebagai penemuan arkeologi terbesar abad ke-20. Orang Badui itu mendengar batu tersebut memecahkan sebuah tempayan tanah liat. Sewaktu menyelidikinya, ia menemukan gulungan pertama dari apa yang kemudian dikenal sebagai Gulungan Laut Mati
.
GULUNGAN ini menjadi pusat perhatian dan kontroversi baik di kalangan akademisi maupun publik. Masyarakat dilanda kebingungan dan kesimpangsiuran. Tersebarlah desas-desus bahwa fakta tentang gulungan ini ditutup-tutupi, karena dikhawatirkan akan melemahkan iman umat Kristen dan umat Yahudi. Namun, apa fakta sebenarnya tentang gulungan ini? Setelah lebih dari 50 tahun, dapatkah fakta ini terungkap?
.
Siapa Penulis Gulungan Laut Mati?
Berbagai metode penetapan tanggal dokumen kuno menunjukkan bahwa gulungan itu disalin maupun disusun antara abad ketiga SM dan abad pertama M. Beberapa cendekiawan berasumsi bahwa gulungan ini disembunyikan di gua-gua oleh orang-orang Yahudi dari Yerusalem sebelum bait dihancurkan pada tahun 70 M. Akan tetapi, mayoritas cendekiawan peneliti gulungan-gulungan itu mendapati bahwa asumsi tersebut tidak selaras dengan isi gulungan itu sendiri. Banyak gulungan mencerminkan pandangan dan kebiasaan yang bertentangan dengan peraturan keagamaan di Yerusalem. Gulungan-gulungan itu menyingkapkan tentang suatu komunitas yang percaya bahwa Allah telah menolak para imam dan dinas di bait Yerusalem dan bahwa Ia memandang ibadat mereka di padang gurun sebagai pengganti dinas di bait. Tampaknya mustahil bila para imam dari bait di Yerusalem menyembunyikan koleksi yang antara lain berisi gulungan semacam itu
.
Meskipun tampaknya terdapat sekelompok penyalin di Qumran, kemungkinan besar banyak gulungan tersebut dihimpun dari tempat lain dan dibawa ke sana oleh para penganut sekte itu. Dengan kata lain, Gulungan Laut Mati adalah semacam koleksi perpustakaan yang ekstensif. Sebagaimana halnya perpustakaan lainnya, koleksi gulungan ini pun bisa berisi beragam gagasan, tidak selalu mencerminkan pandangan religius pembacanya. Akan tetapi, naskah-naskah yang terdapat pada lebih dari satu salinan itu kemungkinan besar mencerminkan minat dan kepercayaan khusus dari kelompok tersebut
.
Apakah Penduduk Qumran Anggota Kaum Essen?
Jika gulungan-gulungan ini adalah perpustakaan orang-orang Qumran, siapakah mereka sebenarnya? Profesor Eleazar Sukenik, yang memperoleh tiga gulungan untuk Universitas Ibrani di Yerusalem pada tahun 1947, adalah orang pertama yang berasumsi bahwa gulungan-gulungan ini milik suatu komunitas kaum Essen
.
Essen adalah suatu sekte Yahudi yang disebutkan oleh para penulis abad pertama Yosefus, Filo dari Aleksandria, dan Plinius Sang Penatua. Asal-usul sebenarnya dari kaum Essen ini masih belum dapat dipastikan, tetapi kemungkinan mereka terbentuk pada masa pergolakan yang dipicu oleh pemberontakan kaum Makabe pada abad kedua SM.^^ Yosefus melaporkan tentang keberadaan mereka selama periode itu, seraya ia memerinci perbedaan pandangan religius mereka dengan pandangan orang Farisi dan Saduki. Plinius menyebutkan lokasi komunitas kaum Essen, yaitu di tepi Laut Mati antara Yerikho dan En-gedi
.
Profesor James VanderKam, seorang cendekiawan peneliti Gulungan Laut Mati, berpendapat bahwa ”kaum Essen yang tinggal di Qumran hanyalah sebagian kecil dari gerakan Essen yang lebih besar”, yang menurut perkiraan Yosefus berjumlah sekitar empat ribu orang. Meski gambarannya tidak seratus persen akurat, kaum yang tampaknya paling cocok dengan karakter naskah Qumran adalah kaum Essen dibandingkan dengan kelompok Yahudi mana pun pada zaman itu
.
Beberapa pakar berpendapat bahwa Kekristenan bermula di Qumran. Meskipun demikian, terdapat banyak perbedaan mencolok antara pandangan religius sekte Qumran dan Kekristenan masa awal. Tulisan-tulisan Qumran menyingkapkan adanya peraturan Sabat yang sangat ketat dan perhatian yang ekstrem terhadap kemurnian yang bersifat seremonial. (Matius 15:1-20; Lukas 6:1-11) Selain itu, tersingkap pula hal-hal seperti keterasingan kaum Essen dari masyarakat, kepercayaan mereka akan takdir dan jiwa yang tak berkematian, dan penitikberatan pada keselibatan serta gagasan mistik tentang beribadat bersama para malaikat. Ini memperlihatkan bahwa ajaran mereka tidak sesuai dengan ajaran Yesus dan orang-orang Kristen masa awal.—Matius 5:14-16; Yohanes 11:23, 24; Kolose 2:18; 1 Timotius 4:1-3
.
Tak Ada yang Ditutupi, Tak Ada yang Disembunyikan
Dalam tahun-tahun setelah Gulungan Laut Mati ditemukan, berbagai publikasi dihasilkan sehingga temuan-temuan awal ini dapat diakses oleh para cendekiawan di seluruh dunia. Namun, ribuan fragmen dari salah satu gua, yang dikenal sebagai Gua 4, ternyata sempat menimbulkan masalah. Fragmen-fragmen ini dikuasai oleh sekelompok kecil cendekiawan internasional yang bermarkas di Yerusalem Timur (pada waktu itu bagian dari Yordania) di Museum Arkeologi Palestina. Tidak seorang pun cendekiawan Yahudi atau Israel yang menjadi anggota tim ini
.
Tim ini membuat kebijakan untuk tidak memperbolehkan gulungan-gulungan itu diakses sampai mereka mengeluarkan hasil resmi riset mereka. Jumlah cendekiawan di tim ini dibatasi. Apabila seorang anggota tim meninggal, hanya satu cendekiawan baru yang akan ditambahkan untuk menggantikannya. Jumlah pekerjaan menuntut tim yang lebih besar, dan dalam beberapa kasus, menuntut keahlian tingkat tinggi dalam bidang bahasa Ibrani dan Aramaik kuno. Sebagaimana yang dikatakan James VanderKam, ”Puluhan ribu fragmen terlalu banyak untuk ditangani oleh delapan pakar, tidak soal sehebat apa pun mereka.”
Dengan berkecamuknya Perang Enam Hari pada tahun 1967, Yerusalem Timur dan gulungan-gulungannya menjadi berada di bawah yurisdiksi Israel, namun kebijakan tim riset gulungan tetap tidak berubah. Karena setelah puluhan tahun hasil penelitian gulungan-gulungan dari Gua 4 tak kunjung terbit, protes pun mulai bermunculan dari sejumlah cendekiawan. Pada tahun 1977, Profesor Geza Vermes dari Universitas Oxford menyebutnya sebagai skandal akademis terhebat dari abad ke-20. Desas-desus mulai menyebar bahwa Gereja Katolik-lah yang sengaja menyembunyikan informasi pada gulungan itu yang dianggap berbahaya bagi Kekristenan
.
Pada tahun 1980-an, tim ini akhirnya diperbesar hingga beranggotakan 20 cendekiawan. Kemudian, pada tahun 1990, di bawah pengarahan pemimpin redaksi yang baru diangkat, Emanuel Tov, dari Universitas Ibrani di Yerusalem, tim ini diperbesar lagi hingga beranggotakan 50 cendekiawan. Jadwal ketat ditetapkan untuk menerbitkan semua edisi gulungan yang tersisa
.
Sebuah gebrakan besar datang secara tak disangka-sangka pada tahun 1991. Pertama, diterbitkannya buku berjudul A Preliminary Edition of the Unpublished Dead Sea Scrolls (Edisi Pendahuluan Gulungan Laut Mati yang Belum Diterbitkan). Buku ini disusun dengan bantuan komputer berdasarkan sebuah salinan konkordansi tim itu. Kemudian, Perpustakaan Huntington di San Marino, Kalifornia, mengumumkan bahwa mereka akan menyediakan bagi para cendekiawan seperangkat foto lengkap gulungan-gulungan itu. Baru-baru ini, dengan diterbitkannya A FacsimileEdition of the Dead Sea Scrolls (Edisi Faksimile Gulungan Laut Mati), foto gulungan-gulungan yang belum pernah dipublikasikan menjadi mudah didapat
.
Dengan demikian, selama dekade ini, semua Gulungan Laut Mati sudah dapat diselidiki. Ini menyingkapkan bahwa tidak ada lagi yang ditutup-tutupi; tidak ada lagi gulungan yang disembunyikan. Karena edisi final yang resmi dari gulungan-gulungan ini sedang diterbitkan, baru sekaranglah analisis yang lengkap dapat dimulai. Kelompok cendekiawan Gulungan Laut Mati generasi baru telah lahir. Tetapi, mengapa penelitian ini begitu penting bagi para pelajar Alkitab?
.
Gulungan Laut Mati—Mengapa Hendaknya Saudara Berminat Mengetahuinya?
Sebelum Gulungan Laut Mati ditemukan, manuskrip-manuskrip Kitab-Kitab Ibrani tertua yang tersedia berasal dari sekitar abad kesembilan dan kesepuluh M. Apakah manuskrip-manuskrip ini dapat diandalkan sebagai salinan Firman Allah setepat yang aslinya, sedangkan penulisan Kitab-Kitab Ibrani telah rampung lebih dari seribu tahun berselang? Profesor Julio Trebolle Barrera, anggota tim redaksi internasional Gulungan Laut Mati, menyatakan, ”Gulungan Yesaya [dari Qumran] menyediakan bukti mutlak bahwa penyalinan naskah Alkitab selama periode lebih dari seribu tahun oleh para penyalin Yahudi benar-benar tepat dan cermat.”
.
GULUNGAN yang dirujuk Barrera berisi buku Yesaya yang lengkap. Hingga sekarang, di antara lebih dari 200 manuskrip Alkitab yang ditemukan di Qumran, bagian-bagiannya telah diidentifikasi sebagai tiap-tiap buku Kitab-Kitab Ibrani, kecuali buku Ester. Tidak seperti Gulungan Yesaya, kebanyakan hanya terdapat pada fragmen, yang isinya kurang dari sepersepuluh bukunya sendiri. Buku-buku Alkitab terpopuler di Qumran adalah Mazmur (36 salinan), Ulangan (29 salinan), dan Yesaya (21 salinan). Buku-buku ini juga paling sering dikutip dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen
.
Meskipun Gulungan Laut Mati mempertunjukkan bahwa Alkitab tidak mengalami perubahan mendasar, gulungan-gulungan itu menyingkapkan bahwa hingga taraf tertentu, terdapat berbagai versi naskah Alkitab Ibrani yang digunakan oleh orang-orang Yahudi di periode Bait Kedua, masing-masing dengan kekhasannya sendiri. Tidak semua gulungan identik dengan naskah Masoret dalam hal ejaan atau kata-kata. Beberapa lebih dekat ke Septuaginta Yunani. Sebelumnya, para cendekiawan berpikir bahwa perbedaan-perbedaan Septuaginta mungkin diakibatkan oleh kekeliruan atau bahkan gagasan yang sengaja dimasukkan oleh penerjemahnya. Sekarang, gulungan-gulungan ini menyingkapkan bahwa banyaknya perbedaan ini sebenarnya disebabkan oleh adanya variasi dalam naskah-naskah Ibrani. Hal ini turut menjelaskan bahwa orang-orang Kristen masa awal mengutip naskah Kitab-Kitab Ibrani dengan pilihan kata yang berbeda dengan naskah Masoret.—Keluaran 1:5; Kisah 7:14
.
Dengan demikian, temuan berharga berupa gulungan dan fragmen ini merupakan bahan yang sangat bagus untuk meneliti penyalinan naskah Alkitab Ibrani. Gulungan Laut Mati meneguhkan kegunaan Septuaginta maupun Pentateukh Samaria sebagai naskah perbandingan. Gulungan-gulungan ini merupakan sarana penunjang bagi para penerjemah Alkitab untuk mempertimbangkan kemungkinan pengembangan naskah Masoret. Dalam sejumlah kasus, gulungan-gulungan ini meneguhkan keputusan Panitia Penerjemahan Alkitab Dunia Baru untuk mengembalikan nama Yehuwa pada tempatnya setelah sempat hilang dari naskah Masoret
.
Gulungan-gulungan yang menjelaskan tentang peraturan dan kepercayaan sekte Qumran ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwa pada zaman Yesus, Yudaisme tidak hanya ada dalam satu bentuk. Sekte Qumran memiliki tradisi yang berbeda dengan tradisi orang-orang Farisi dan Saduki. Perbedaan-perbedaan inilah yang kemungkinan membuat sekte ini mengasingkan diri ke padang belantara. Mereka dengan keliru memandang diri sebagai penggenap Yesaya 40:3 tentang suara di padang belantara yang meluruskan jalan bagi Yehuwa. Sejumlah fragmen gulungan merujuk kepada Mesias, yang kedatangannya dianggap sudah sangat dekat oleh para penulisnya. Ini khususnya sangat menarik karena Lukas berkomentar bahwa ”orang-orang sedang menanti” kedatangan Mesias.—Lukas 3:15
.
Gulungan Laut Mati membantu kita hingga ke taraf mengerti konteks kehidupan orang-orang Yahudi selama masa Yesus mengabar. Gulungan ini menyediakan informasi perbandingan untuk mempelajari naskah Ibrani kuno dan naskah Alkitab. Namun, masih banyak naskah Gulungan Laut Mati yang perlu dianalisis lebih dekat. Dengan demikian, pemahaman-pemahaman baru masih akan dapat diperoleh. Ya, penemuan arkeologi terbesar abad ke-20 ini masih menarik minat para cendekiawan maupun pelajar Alkitab seraya kita mengarungi abad ke-21 ini
Salinan dari publikasi Menara Pengawal 15 Feburari 2001
.
[Catatan Kaki]
* Umumnya lembaran yang digunakan untuk membuat gulungan panjangnya antara 23 sampai 28 cm dan lebarnya 15 sampai 23 cm. Beberapa lembaran disambung dengan merekatkan sisi-sisinya menggunakan pasta. Namun, lembaran-lembaran Gulungan Yesaya Laut Mati, dari abad kedua SM, dijahit menjadi satu dengan benang linen. Gulungan itu terdiri dari 17 lembaran perkamen yang rata-rata tingginya 26,2 cm dan lebarnya bervariasi dari kira-kira 25,2 cm hingga 62,8 cm; panjang seluruhnya 7,3 m berdasarkan kondisinya sekarang. Pada zaman Plinius, panjang gulungan (mungkin yang diperjualbelikan) biasanya 20 lembaran. Sebuah gulungan papirus Mesir yang memuat riwayat pemerintahan Ramses III, disebut Papirus Harris, panjangnya 40,5 m. Untuk Injil Markus pastilah diperlukan gulungan sepanjang 5,8 m; untuk Injil Lukas, sekitar 9,5 m. Buku Pemahaman Jilid 1
^ Baik Apokrifa (secara harfiah berarti ”tersembunyi”) maupun Pseudepigrafa (secara harfiah berarti ”tulisan-tulisan yang keliru nara sumbernya”) adalah tulisan-tulisan Yahudi dari abad ketiga SM hingga ke abad pertama M. Apokrifa diterima Gereja Katolik Roma sebagai bagian dari kanon Alkitab terilham, namun ditolak oleh orang-orang Yahudi dan Protestan. Pseudepigrafa umumnya berupa perincian cerita-cerita Alkitab, ditulis dengan memasang nama beberapa tokoh Alkitab terkenal sebagai penulisnya
12902393541503434394

Gulungan Naskah Laut Mati

Gulungan Naskah Laut Mati memang merupakan temuan yang tak ternilai. Suatu benda peninggalan dua ribu tahun lebih yang memuat banyak dokumen penting sejarah (terutama kisah dari zaman para Nabi). Naskah kuno itu juga memuat kode-kode rahasia yang belum terpecahkan seluruhnya
.
Para ahli sebelumnya sudah menemukan bukti tentang beberapa kitab salinan Yahudi berbahasa Hebrew yang ditulis pada masa sesudah Masehi (kira-kira 1.300 tahun lalu)
.
Namun Gulungan Naskah Laut Mati berdasarkan uji karbon yang dilakukan para ahli dari Chicago, AS, menunjukkan material yang digunakan sebagai media penulisan naskah itu disimpulkan dari masa 200-an tahun sebelum Masehi.
Para peneliti menemukan naskah yang belum terindentifikasi di antara Gulungan Naskah Laut Mati itu. Teks yang tak terbaca itu dianggap sebagai Gulungan Naskah Biara (Temple Scroll) yang memuat peraturan dan hukum dalam Pentateuch yang dikenal sebagai bagian dari lima kitab pertama dalam Bibel Hebrew dan Perjanjian Lama
.
Termasuk di dalamnya Kitab Disiplin Community Rule yang mendeskripsikan bagimana komunitas itu yang bertempat di Qumran mengorganisir kehidupan spiritualnya. Lalu ada bagian yang memaparkan tentang Jalan Keselamatan (The Way) dan pertempuran antara Putra Cahaya (Son of Light) melawan Putra Kegelapan (Son of Darkness), yang berisi rencana detail perang penghabisan yang dinantikan komunitas Qumran
.
Gulungan Naskah lainnya berisi soal berbagai doa, kidung pujian, komentar-komentar tentang bagian-bagian Bibel, legenda, ramalan, argumentasi reliji, dan berbagai kisah yang tak diketahui yang berhubungan dengan karakter yang tercantum dalam Bibel Hebrew
.
Khirbet Qumran
Para ahli arkeologi menemukan sebuah situs biara yang berjarak kira-kira 540 meter dari lubang gua pertama ditemukannya Gulungan Naskah Laut Mati. Mereka mengidentifikasinya sebagai Biara Khirbet Qumran
.
Khirbet Qumran ini adalah satu komunitas sekte yang sangat ketat mengikuti ajaran para Nabi di zaman sebelum Jesus Kristus. Mereka cenderung mengucilkan diri dari kehidupan sosial dan menekuni isi kitab-kitab Perjanjian Lama, hidup dengan penuh pengabdian pada sektenya, merapal doa, beribadah dan menyalin kitab-kitab tua
.
Di situs biara ini ditemukan benda-benda yang berkaitan dengan tulis menulis. Diantaranya ditemukan 2 buah pot tinta, beberapa stylus (alat tulis jaman purba semacam pulpen yang dibuat dari potongan tulang, batu, atau material khusus), dan sebuah guci yang persis sama dengan guci yang ditemukan di gua tempat penyimpanan Gulungan Naskah Laut Mati
.
Berdasarkan penelitian dan uji laboratorium, benda-benda kuno ini dibuat sekitar tahun 68 Masehi. Dalam salah satu perkamen naskah dituliskan bahwa saat itu Legiun Kekaisaran Romawi menguasai wilayah Barat Laut Mati (saat ini Palestina dan Israel). Para pendeta di biara tersebut sempat menyembunyikan beberapa naskah ke dalam gua di tepian Laut Mati
.
Sebagian besar dokumen ditulis dengan bahasa Hebrew (Ibrani-Yahudi) bahkan ada dokumen yang disamarkan begitu kecil sampai sebesar perangko. Lalu ada juga yang dituliskan dalam aksara Yunani Kuno (Septuagint)
.
Temuan di sekitar biara dan teritori Qumran ini ada sekitar 500-an kitab, termasuk bagian kitab Perjanjian Lama. Namun tak dapat dipastikan apakah mereka berhubungan dengan sekte Essenes, Yahudi Kuno, dan Pengikut Yesus Kristus (Kristen). Semua masih tetap misteri.
Naskah Laut Mati terdiri dari lebih kurang 900 dokumen, termasuk teks-teks dari Kitab Suci Ibrani, yang ditemukan antara tahun 1947 dan 1956 dalam 11 gua di Wadi Qumran dan sekitarnya (dekat reruntuhan pemukiman kuno Khirbet Qumran, di sebelah barat daya pantai Laut Mati). Teks-teks ini mempunyai makna keagamaan dan sejarah yang penting, karena mereka praktis merupakan satu-satunya dokumen-dokumen Alkitab yang berumur antara 150 BCE dan 70 CE.
Potongan-potongan naskah Laut Mati dipamerkan di Museum Arkeologi, Amman
.

Waktu penulisan dan isinya

Menurut perhitungan tanggal karbon dan analisis teks, dokumen-dokumen ini ditulis pada berbagai masa sejak pertengahan abad ke-2 SMhingga abad pertama M. Sekurang-kurangnya satu dokumen, berdasarkan perhitungan tanggal karbon berasal dari tahun 21 SM61 MPapirus Nash dari Mesir, yang mengandung salinan Dasa Titah, adalah satu-satunya dokumen berbahasa Ibrani lainnya yang sangat kuno. Bahan-bahan tertulis serupa lainnya telah ditemukan dari situs-situs di dekatnya, termasuk benteng Masada. Sebagian dari naskah ini ditulis di atas papirus, namun cukup banyak pula yang ditulis di kulit binatang yang berwarna kecoklatan, yang tampaknya gevil
.
Potongan-potongan ini terdiri dari sekurang-kurangnya 800 teks yang mewakili pandangan-pandangan yang berbeda-beda, dari keyakinan orang-orang Esene hingga sekte-sekte yang lain. Sekitar 30%nya adalah potongan-potongan dari Kitab Suci Ibrani, dari semua kitab kecuali Kitab Ester. Sekitar 25% merupakan teks-teks keagamaan israel tradisional yang tidak ada di dalam Kitab Suci Ibrani yang kanonik, seperti misalnyaKitab HenokhKitab Yobel, dan Perjanjian Lewi. Sekitar 30% lagi mengandung tafsiran-tafsiran Alkitab dan teks-teks lainnya seperti misalnya “Manual Disiplin” (1QS, yang dikenal pula sebagai “Naskah Disiplin” atau “Aturan Komunitas”) dan Aturan Peperangan (1QM, juga dikenal sebagai “Naskah Peperangan”) yang terkait dengan kepercayaan, peraturan, dan tuntutan keanggotaan dari sebuah sekte kecil Yahudi, yang dipercaya banyak peneliti hidup di wilayah Qumran. Sisanya (sekitar 15%) dari potongan-potongan ini belum dapat diidentifikasikan. Kebanyakan dari mereka ditulis dalam bahasa Ibrani, namun sebagian juga ditulis dalam bahasa Aram dan beberapa dalam bahasa Yunani
.
Teks-teks penting mencakup Gulungan Yesaya (yang ditemukan pada 1947), sebuah tafsiran Habakuk (1947); Peraturan Komunitas (1QS), yang memberikan banyak informasi mengenai struktur dan teologi sekte ini; dan versi yang paling awal dari Dokumen Damsyik. Apa yang disebut Gulungan Tembaga (1952), yang mendaftarkan tempat-tempat penyimpanan emas, naskah, dan senjata yang tersembunyi barangkali adalah yang paling terkenal.
.

Eseni

Menurut sebuah pandangan yang hampir secara universal diterima hingga tahun 1990-an, dokumen-dokumen ini ditulis dan disembunyikan oleh sebuah komunitas orang Eseni yang hidup di daerah Qumran. Ini dikenal sebagai Hipotesis Esene. Orang-orang Yahudi memberontak melawan orang-orang Romawi pada 66 M. Sebelum mereka dibantai oleh para tentara Romawi, orang-orang Eseni menyembunyikan kitab-kitab suci mereka di gua-gua dan baru ditemukan kembali pada 1947
.

Saduki

Sebuah teori lainnya, yang kini semakin populer, ialah bahwa komunitas itu dipimpin oleh para imam Zadok (Saduki). Dokumen terpenting yang mendukung pandangan ini ialah “Miqsat Ma’ase haTorah” (MMT, 4Q394-), yang menyebutkan hukum-hukum kesucian yang sama dengan yang apa disebutkan berasal dari kaum Saduki dalam tulisan-tulisan rabinik (seperti misalnya tentang perpindahan kenajisan). Dokumen ini juga mereproduksikan sebuah kalender festival yang mengikuti prinsip-prinsip kaum Saduki sejak penetapan tanggal-tanggal festival tertentu. Bukti yang lainnya ditemukan dalam 4QMMT yang setuju dengan posisi kaum Saduki bahwa air yang tidak mengalir secara ritual najis. Pandangan ini bertentangan dengan keyakinan orang-orang Farisi. Kebanyakan sarjana merasa bahwa meskipun terdapat kesamaan-kesamaan dalam hukum-hukum kesucian, sebagian masalah teologis yang besar dan tidak terjembatani membuat hal ini tidak mungkin. Misalnya, Yosefus mengatakan bahwa kaum Saduki dan kaum Esene memegang pandangan yang berlawanan mengenai predestinasi. Kaum Esene mengatakan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh takdir, sementara kaum Saduki sama sekali menolak adanya takdir. Demikian pula, banyak naskah yang memperlihatkan bukti bahwa para penulis naskah itu percaya bahwa jiwa akan tetap hidup sesudah kematian (termasuk kebangkitan) yang berlawanan dengan kaum Saduki yang berpendapat bahwa kebangkitan, malaikat, ataupun roh itu tidak ada
.

Perpustakaan Bait Suci

Pada 1963 Karl Heinrich Rengstorf dari Universitas Münster mengajukan teori bahwa naskah-naskah Laut Mati berasal dari perpustakaan Bait Suci Yerusalem. Teori ini ditolak oleh kebanyakan pakar pada tahun 1960-an, yang berpendapat bahwa naskah-naskah itu ditulis di Qumran dan bukan dipindahkan dari sebuah lokasi lain (posisi yang didukung oleh identifikasi de Vaux tentang sebuah kemungkinan perpustakaan di reruntuhan Qumran). Namun, teori itu dihidupkan kembali oleh Norman Golb dan para ahli lainnya pada tahun 1990-an, yang menambahkan bahwa naskah-naskah itu kemungkinan juga berasal dari sejumlah perpustakaan lain, selain dari perpustakaan Bait Suci
.

Frekuensi kitab-kitab yang ditemukan

Potongan-potongan dari 38 kitab di Perjanjian Lama atau Alkitab Ibrani telah ditemukan. Hanya kitab Ester yang tidak ditemukan. Ada sejumlah potongan kecil bahasa Yunani dari gua 7 dilaporkan berisi sejumlah ayat-ayat dalam Injil Markus (4 fragmen), Kisah Para Rasul, Surat Roma, 1 Timotius, dan Yakobus, masing-masing 1 fragmen
.
Kitab-kitab disusun menurut jumlah manuskrip yang ditemukan (11 kitab terbanyak)
Nama kitabJumlah ditemukan
Mazmur39
Ulangan33
1 Henokh25
Kejadian24
Yesaya22
Yobel21
Keluaran18
Imamat17
Bilangan11
Nabi-nabi kecil10
Daniel8
Yeremia6
Yehezkiel6
Ayub6
1&2 Samuel4

Maknanya

Makna naskah-naskah ini masih diganggu oleh ketidakpastian mengenai waktu penulisan dan asal-usulnya
.
Meskipun terdapat keterbatasan ini, naskah-naskah ini sudah cukup berharga bagi teks kritik. Sebelum ditemukannya Naskah laut Mati, manuskrip Alkitab tertua dalam bahasa Ibrani adalah sejumlah Teks Masoret yang berasal dari abad ke-9. Manuskrip-manuskrip Alkitab yang ditemukan di antara naskah-naskah Laut Mati mendorong tanggal itu menjadi lebih tua, yaitu abad ke-2 SM. Sebagian dari naskah Alkitab yang ditemukan di Qumran mengandung perbedaan dengan teks Masoret, tetapi kebanyakan ternyata sama. Jadi, naskah-naskah itu memberikan varian-varian baru dan kemampuan untuk lebih percaya terhadap bacaan-bacaan itu apabila manuskrip-manuskrip Laut Mati itu sepakat dengan teks Masoret
.
Lebih jauh, teks-teks sektarian dari Naskah Laut Mati, yang kebanyakan sebelumnya tidak diketahui, memberikan terang baru terhadap suatu bentuk Yudaisme yang dipraktikkan pada masa Bait Allah kedua
.

Penemuan

Perjalanan modern naskah Laut Mati dari tangan orang-orang Beduin yang menemukannya ke Tim Internasional yang belakangan menyusunnya untuk memulai rekonstruksi dan penerjemahannya barangkali sama misterius dan luar biasanya dengan naskah-naskah itu sendiri. Semuanya dimulai, mungkin dengan tidak disangka-sangka, dengan seekor domba
.
Datanya tidak jelas, dan berbagai pendapat telah dikemukakan selama tahun 1930-an dan 1940-an sebagai alternatif bagi waktu yang lebih banyak diterima yaitu tahun 1947. Barangkali pada awal 1947, Mohammed Ahmed el-Hamed (nama julukan edh-Dhib, “serigala”), seorang gembala Beduin, pergi untuk mencari dombanya yang hilang. Ketika memeriksa gua-gua di lereng bukit yang terjal, ia melemparkan sebutir batu ke dalam gua itu dengan harapan menakut-nakuti dombanya hingga keluar. Dombanya tidak ditemukan, namun apa yang didengarnya menuntut penelitian lebih jauh — dentingan keramik yang pecah. Ia masuk ke gua itu dan menemukan sejumlah bejana kuno yang berisikan naskah-naskah yang digulung dengan kain lenan
.
Setidak-tidaknya demikianlah versi resmi yang diterima (berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh John C. Trever). Rinciannya tidak jelas; mungkin kambing dan bukan domba. Mungkin ada dua orang Beduin dan bukan hanya satu orang. Mungkin mereka langsung mengambil gulungan-gulungan itu, atau kembali lagi pada hari berikutnya, atau beberapa hari kemudian. Usaha-usaha untuk menjelaskannya ternyata sia-sia, dan para pakar telah mewawancarai lebih banyak orang yang mengaku bernama Mohammed edh-Dhib daripada jumlah naskah-naskah yang diambil dari tempat persembunyian yang pertama, masing-masing dengan versi kejadiannya sendiri
.
Kisahnya tetap kabur. Gulungan itu pertama-tama dibawa ke sebuah penjual barang antik Betlehem yang bernama Ibrahim ‘Ijha, yang langsung mengembalikannya karena diberitahukan bahwa naskah-naskah itu kemungkinan telah dicuri dari sebuah sinagoga. Gulungan-gulungan itu segera jatuh ke tangan seorang tukang reparasi sepatu yang kemudian beralih menjadi pedagang barang antik, Khalil Eskander Shahin, yang lebih dikenal sebagai Kando. Sekali lagi kita menghadapi misteri yang terselubung. Menurut sebagian besar laporan, kaum Beduin ini hanya mengambil tiga gulungan naskah bersama mereka setelah pertama kali menemukannya dan kemudian kemungkinan mereka kembali karena disuruh Kando dan mengunjungi tempat itu untuk menggali lebih banyak naskah atau mungkin Kando sendiri terlibat dalam penggaliannya sendiri yang berlawanan hukum. Yang pasti ialah Kando sendiri kemudian memiliki setidaknya empat gulungan
.
Urusan dengan kaum Beduin ini akhirnya menyebabkan naskah-naskah itu jatuh ke tangan pihak ketiga sebelum dilakukan tawar-menawar. Pihak ketiga itu, George Isha’ya, adalah seorang anggota Gereja Ortodoks Suriah, yang segera menghubungi Biara St. Markus dengan harapan akan mendapatkan penilaian harga untuk teks-teks itu. Berita tentang penemuan ini tiba di tangan Metropolitan Athanasius Yeshue Samuel, yang lebih sering disapa Mar Samuel.
Setelah meneliti gulungan-gulungan tersebut dan yakin bahwa mereka memang sangat tua, Mar Samuel menyatakan niatnya untuk membelinya. Keempat naskah itu jatuh ke tangannya, yaitu Naskah Yesaya, the Aturan KomunitasPeshar Habakuk (Penafsiran Habakuk), dan Apokrifon Kejadian (Naskah apokrif Kejadian). Lewat pasar barang antik, lebih banyak gulungan yang bermunculan, dan Eleazer Sukenikkemudian memiliki tiga gulungan naskah: Naskah PeperanganNyanyian Pengucapan Syukur, dan sejumlah potongan-potongan gulungan Yesaya lainnya
.
Pada akhir 1947, Sukenik, secara sangat kebetulan, mendapat berita tentang naskah-naskah yang dimiliki oleh Mar Samuel dan berusaha membelinya. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan, dan sebaliknya, naskah-naskah itu malah menarik perhatian John C. Trever, dari Sekolah Penelitian Oriental Amerika (ASOR). Trever menemukan kesamaan antara tulisan-tulisan dalam gulungan-gulungan itu dengan tulisan-tulisan pada Papirus Nash, yang pada saat itu merupakan manuskrip Alkitab tertua
.
Suatu kebetulan yang aneh, Trever, selain seorang sarjana Alkitab yang berbakat, juga seorang fotografer amatir yang sangat baik. Ia mengatur pertemuan dengan Mar Samuel pada 21 Februari 1948, dan di situ ia memotret naskah-naskah itu. Setelah bertahun-tahun kualitas foto-fotonya seringkali jauh lebih baik daripada gulungan-gulungan itu sendiri, karena teks-teks itu segera menjadi rusak begitu mereka dikeluarkan dari tempat perlindungannya yang cukup aman berupa bungkusan kain lenan
.
Bulan Maret tahun yang sama, pecahlah kekerasan antara orang-orang Arab dan Yahudi di Palestina, yang menyebabkan diamankannya naskah-naskah itu dari negara tersebut. Meskipun sesungguhnya pengamanan benda-benda kuno dengan cara itu melanggar hukum, gulungan-gulungan tersebut akhirnya tiba di Beirut
.

Gua 1

Baru pada 1949, hampir dua tahun setelah penemuan ini, para sarjana mengetahui di mana letak gua tempat gulungan-gulungan ini ditemukan. Sebuah penggalian di gua itu dimulai pada Februari tahun itu, dipimpin oleh G. L. Harding, Roland de Vaux, dan Ibrahim El-Assouli, yang menangani Museum Rockefeller. Orang-orang Beduin sudah mendahului para arkeolog itu dalam mengambil manuskrip-manuskrip dan potongan-potongan yang lebih besar, namun demikian sekitar 600 potongan berhasil dikumpulkan. Begitu pula potongan-potongan kayu, kain, dan pecahan-pecahan tembikar. Foto-foto infra-merah diambil terhadap fragmen-fragmen itu, yang kelak ternyata merupakan sarana berharga untuk membaca teks-teks itu di kemudian hari
.
Setelah jelas bahwa lebih banyak gulungan yang diperoleh Sukenik dan Mar Samuel telah dicuri, diadakanlah tawar-menawar dengan Kando, yang bertindak atas nama orang-orang Beduin. Sejumlah 1000 pound Yordania dibayarkan kepada Kando untuk fragmen-fragmen yang masih tersisa. Berurusan dengan pedagang barang antik dan perampok, meskipun pada umumnya bukan sesuatu yang menyenangkan, adalah langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan gulungan-gulungan itu untuk dipelajari lebih lanjut
.

Gua 2

Tiga tahun kemudian pada 1952, kaum Beduin kembali menemukan harta karun di sebuah gua yang berdekatan (Gua 2). Meskipun tidak sepenting gudang manuskrip dari Gua 1, berbagai fragmen ditemukan oleh orang-orang Beduin yang, kembali bekerja melalui Kendo, menjualnya kepada Museum Arkeologi Palestina dan École Biblique (Sekolah Alkitab)
.

Gua 3

Pada 14 Maret tahun yang sama, nasib akhirnya berpihak kepada para sarjana dan ekspedisi mereka, karena mereka menemukan gua ketiga yang berisi fragmen-fragmen manuskrip. Selain itu, mungkin yang paling misterius dari semua gulungan, yaitu Gulungan Tembaga jelas memuat sebuah daftar dan petunjuk ke tempat-tempat harta karun yang mengandung harta yang menakjubkan
.

Gua 4

Pada Agustus 1952 orang-orang Beduin kembali melakukan penemuan yang penting, kali ini dalam Gua 4. Fragmen-fragmen gulungan dalam jumlah besar (meskipun bukan gulungan yang lengkap) segera bermunculan di pasar barang antik. Harding segera menemukan situs ini, mengejar kaum Beduin yang sedang mengambili barang-barang itu. Lebih dari setengah dari tempat penyimpanan yang besar ini telah dikumpulkan oleh kaum Beduin yang mencari harta karun. Penggalian arkeologis dimulai pada akhir September tahun itu, dan menghasilkan lebih banyak lagi fragmen dari lebih banyak lagi teks, serta kamar kedua dari gua ini
.
Pemerintah Yordania yang sedang menghadapi kesulitan keuangan segera menyadari bahwa dirinya tidak mampu mendanai pembelian-pembelian lebih lanjut, dan karena itu menawarkan kesempatan kepada lembaga-lembaga asing untuk melakukan investasi dengan membeli gulungan-gulungan itu, dan untuk itu mereka akan dikompensasikan dengan fragmen-fragmennya. Beberapa lembaga menanggapi, namun mereka dilarang membeli dan uang mereka dikembalikan ketika pemerintah Yordania mengubah pendiriannya, dan memutuskan untuk mempertahankan teks-teks itu di Yordania
.

Gua 5 dan 6

Penggalian-penggalian di Gua 4 segera memimpin mereka kepada penemuan Gua 5, dan menghasilkan fragmen-fragmen dalam jumlah yang agak lumayan. Tak lama sesudah itu, orang-orang Beduin, menemukan Gua 6, dan menghasilkan sisa-sisa dari hampir tiga lusin gulungan lagi. Anehnya, kebanyakan dari gulungan-gulungan ini terbuat dari papirus dan bukan kulit seperti yang umumnya ditemukan di gua-gua yang lain
.
Sementara itu, Mar Samuel berangkat ke Amerika. Di sana ia berusaha dengan sia-sia untuk menjual teks-teks yan ada di tangannya, bahkan ia pernah memamerkannya sekali di Perpustakaan Kongres. Akhirnya, karena putus asa, ia memasang iklan di Wall Street Journal yang kini menjadi iklan yang terkenal. Pada 1 Juni 1954, sebuah iklan di Wall Street Journal mengumumkan, “Empat Naskah Laut Mati: Manuskrip-manuskrip Alkitab [sic] yang berasal sekurang-kurangnya dari tahun 200 SM [sic], ditawarkan untuk dijual. Ini akan menjadi pemberian yang ideal kepada suatu lembaga pendidikan atau keagamaan oleh seorang individu atau kelompok. Iklan ini menarik perhatian Yigael Yadin, yang, melalui seorang pertantara, berhasil membeli gulungan-gulungan itu seharga $250.000
.

Gua 7–10

Pada 1955 para arkeolog menemukan empat gua lagi, Gua 7 hingga 10. Penemuan ini hanya menghasilkan sedikit fragmen, namun tetap penting. Gua 7 menghasilkan sembilan fragmen berbahasa Yunani (termasuk 7Q5) dan menimbulkan banyak perdebatan pada dekade-dekade berikutya. Gua 8 hanya memuat lima fragmen, meskipun ditemukan banyak bahan yang digunakan dalam membandingkan gulungan-gulungan itu. Gua 9 hanya mengandung satu fragmen dan Gua 10 tidak mengandung apa-apa kecuali sebuah ostracon (potongan kerambah bertulisan)
.

Gua 11

Orang-orang Beduin adalah orang terakhir yang menemukan Gua 11, yang menghasilkan lebih dari dua lusin teks, termasuk Gulungan Bait Suci, yang kelak disita oleh tentara Israel atas perintah Yigael Yadin. Dua gulungan lengkap lainnya muncul dari Gua 11, sebuah salinan dariKitab Imamat dan sebuah kitab Mazmur, termasuk sejumlah nyanyian yang sebelumnya tidak dikenal. Banyak orang berspekulasi bahwa lebih banyak gulungan dari Gua 11 yang mungkin telah jatuh ke tangan seorang kolektor pribadi
.

Penerbitan

Sebagian dari dokumen-dokumen ini segera diterbitkan: semua tulisan yang ditemukan dalam Gua 1 muncul dalam bentuk tertulis antara 1950dan 1956; temuan-temuan dari 8 gua diterbitkan dalam satu buku pada 1963; dan pada 1965 diterbitkanlah Gulungan Mazmur dari Gua 11. Terjemahan dari bahan-bahan ini segera menyusul.
Yang terkecuali dari penerbitan kilat ini adalah dokumen-dokumen dari Gua 4, yang merupakan 40% dari keseluruhan bahan. Penerbitan bahan-bahan ini dipercayakan kepada suatu tim internasionalyang dipimpin oleh Pater Roland de Vaux, seorang anggota Ordo Dominikan diYerusalem. Kelompok ini menerbitkan jilid pertama dari bahan-bahan yang dipercayakan kepada mereka pada 1968, namun mereka banyak sekali menghabiskan energi mereka untuk membela teori-teori mereka tentang bahan-bahan itu, ketimbang menerbitkannya. Geza Vermes, yang telah terlibat sejak permulaan dalam menyunting dan penerbitan bahan-bahan ini, mempersalahkan penundaan —dan akhirnya kegagalannya— pada pemilihan timnya oleh de Vaux karena dianggap tidak cocok dengan kualitas pekerjaan yang telah diharapkannya. Juga dikatakan bahwa ia terlalu mengandalkan “otoritas pribadinya yang agak patriarkhal” untuk mengontrol penyelesaian pekerjaan ini
.
Akibatnya, temuan-temuan dari Gua 4 tidak diumumkan selama bertahun-tahun. Akses kepada naskah-naskah ini diatur oleh suatu “aturan kerahasiaan” yang membolehkan hanya Tim Internasional yang asli atau mereka yang ditunjuk Tim ini untuk melihat bahan-bahan aslinya. Setelah kematina de Vaux pada 1971, para penggantinya berulang-ulang menolak untuk bahkan mengizinkan penerbitan foto-foto dari bahan-bahan ini sehingga para sarjana lain sekurang-kurangnya dapat membuat penilaian mereka. Aturan ini akhirnya dilanggar: pertama oleh penerbitan pada musim gugur tahun 1991 atas 17 dokumen yang direkonstruksikan dari sebuah konkordansi yang telah dibuat pada 1988 dan telah jatuh ke tangan para ahli di luar Tim Internasional. Berikutnya, pada bulan yang sama, oleh penemuan dan penerbitan dari serangkaian lengkap foto-foto dari bahan-bahan Gua 4 di Perpustakaan Huntington di San Marino, California, yang tidak terkena “aturan kerahasiaan”. Setelah penundaan beberapa kali foto-foto ini diterbitkan oleh Robert Eisenman dan James Robinson (A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, dua jilid, Washington, D.C., 1991). Akibatnya, “aturan kerahasiaan” itu dicabut, dan penerbitan dari dokumen-dokumen Gua 4 segera menyusul, dengan lima jilid bahan yang dicetak pada 1995
.

YESUS POLIGAMI LHO!!!

 Fakta Ilmiah yang di sampaikan oleh pakar Injil dan Pakar kristolog.Jangankan di kalangan orang islam,dikalangan orang kristenpun tidak banyak yang tahu tentang poligaminya Yesus atau Nabi Isa. Dalam alqur’an pun sebenarnya telah ada indikasi indikasi bahwa Yesus berpoligami, namun diabaikan karena umat Islampun telah terpengaruh oleh faham Kristen global bahwa Yesus (Nabi Isa As)itu tidak pernah menikah. Indikasi ini terdapat dalam Qur’an:
.Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).(Qs Ar Ra’ad 38)
.
Di sini menjelaskan bahwa Para Rosul itu mempunyai Istri Istri ,dan anak anaknya. Kalau dianggap Nabi Isa tidak punya istri dan anak maka patut kita pertanyakan kebenaran ayat ini.padahal kita tahu bahwa Qur’an tidak mungkin salah. Karena qur’an terpelihara sampai hari kiamat. Maha benar Allah dengan segala firmanya. Yang menarik Qur’an terjemahan Yusuf ali dalam membahas ayat ini ada komentar di bawahnya sebagai catatan kaki “all prophet have wives except Isa ,because we don’t have any information about him” semua nabi mempunyai istri istri kecuali Isa karena kami tidak dapat informasi tentang dia
.
Apakah betul “no information about him??” ternyata Prof Dr Barbara Tiring pakar theology dan pakar alkitab dari University Of Australia yang telah melakukan penelitian terhadap Naskah laut mati selama lebih dari 20 tahun.kemudian menghubungkan dengan ayat ayat Injil dan menemukan bahwa nabi Isa bukan hanya beristri tetapi poligami artinya beristri lebih dari satu. Di dalam Alkitab upacara upacara pernikahan Yesus (Isa) berusaha dikaburkan oleh fihak Gereja.misalnya dalam Injil :
Markus pasal 14 ayat 3 “Datanglah seorang perempuan perempuan dengan membawa buli buli pualam yang berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya, setelah dipecahkan buli buli itu,di curahkan minyak itu ke kepala Yesus “
.
Lukas pasal 7 ayat 37 dst disitu dijelaskan “maria Magdalena membawa buli buli pualam berisi minyak wangi,sambil menangis ia berdiri di belakang kaki Yesus kemudian dibasahinya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya,menciuminya dan meminyakinya“
.
Seorang perempuan membawa minyak wangi menyeka dan memberi minyak wangi ke rambutnya dll. Ini adalah upacara pernikahan bangsawan yahudi. Peristiwa ini setelah di kupas kita dapat melihat dalam
Kidung Agung pasal 1 ayat 1-3 “kiranya dia mencium aku dengan kecupan, karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur. Harum bau minyakmu bagaikan minyak yang tercurah…” Maria Magdalena mencurahkan minyak dan mencium Yesus. Ini adalah pernikahan Bangsawan Yahudi tetapi dalam Injil ini di sembunyikan.seakan akan maria Magdalena ini adalah perempuan berdosa dan dating meminta ampun kepada Yesus. Tidak..!!! itu adalah perbuatan pihak gereja untuk menutupi fakta sejarah bahwa sesungguhnya Yesus menikah di Kanaan
.
Dimana Yesus menikah ? di Kanaan. Mana buktinya ..? dalam Injil Markus.lebih di jelaskan oleh Barbara Tiring yang mengatakan bahwa “pernikahan Yesus dan Magdalena sangat jelas dalam injil” karena Maria dating memminyaki rambut Yesus dan menciumnya. Ini adalah jelas jelas upacara pernikahan, karena Tidak ada seorang perempuan mencium laki laki yang bukan muhrimnya melainkan di hokum mati . lalu kenapa Maria Magdalena tidak dihukum mati…? Karena Maria Magdalena sedang menyelenggarakan upacara pernikahan dengan Yesus
.
Setelah 4 Injil ,Matius, Markus, Lukas, Yohanes, seakan akan bungkam tentang pernikahan ini. Ternyata Gnostic gospel Injil Philipus menjelaskan bahwa Maria Magdalena ini adalah pacarnya Yesus. Pernyataan ini adala dari Injil Philipus, saying sekali Injil Philipus ini ditolak oleh Gereja. Karena kalau Gereja menerima injil Philipus maka mereka harus menerima bahwa Yesus sebagai anak Allah (kata mereka) ini sebagai Tuhan punya Istri dan punya anak,berarti ada anaknya Tuhan dan ada cucunya Tuhan. Oleh sebab itu “…and the companion of the savior is Maria Magdalena, he love her more than all the disciples. and he often kiss her on her mouth” <dan kawan dekat juru selamat adalah maria Magdalena, dia mencintainya lebih dari pada murid2nya, dan dia sering mencium bibirnya>
.
Karena Yesus sering mencium Maria Magdalena di depan murid2nya maka murid2nya keberatan dengan mengatakan “why do you love her than all of us ? <mengapa engkau mencintainya melebihi dari kami semua ?> kemudian Yesus menjawab “mengapa saya lebih mencintai Maria Magdalena dari pada kalian ? karena seorang yang melihat dan seorang yang buta di dalam kegelapan maka sama saja, yang buta dan yang dapat melihat dalam kegelapan sama saja.tetapi kalau yang buta dan yg melihat berada di tempat yang terang maka dia akan melihat perempuan yang cantik.”
Upacara pernikahan Yesus ini adalah adat upacara bangsawan yahudi. Yang adara di Nashara atau Nasorean yang ada di Kubran. Tentu kita ingin mengetahui kapankah Yesus kawin..? dalam Naskah Laut Mati dijelaskan kronologis perkawinan Yesus
.
Perkawinan Yesus yang pertama dengan Maria Magdalena pada hari Jum’at 22 september 30M pk 18:00pm yang bertempat di Ain Feshkha (Palestina) ini adalah kawin gantung kemudian pernikahan yang kedua
Setelah menikah Yesus naik ke Kumran menjalankan kehidupan menyendiri tidak bercampur dengan Istrinya kemudian pada hari Kamis 19 maret 33M jam 24:00 bertempat di Ain Feshkha (Kana) Yesus kawin yang kedua kalinya dengan Maria Magdalena. Saat itu adalah saat sebelum Yesus di salib. Dan saat itu Yesus dan Maria Magdalena sudah bercampur dengan Istrinya. Ini di perlihatkan dalam Yohanes pasal 12 ayat 3
.
Jadi saat Maria Magdalena dating meminyaki dan mencium Yesus adalah baru upacara perkawinan bukan resepsi pernikahan. Resepsi pernikahan diselenggarakan di kana. Saat semua tamu tamu sudah diundang pada pesta pernikahan itu berlangsung, arak untuk menjamu tamu habis. Kemudian berkata Ibunda Yesus (Mariam) “lihatlah arak sudah habis” akhirnya krn waktu itu tidak ada arak maka mukzizat Yesus yang pertama adalah merubah air menjadi arak
.
Kemudian di dalam kisah para Rasul pasal 6 ayat 7 di jelaskan bahwa pada tanggal 14 juni tahun 37M lahirlah anak Yesus yang pertama yaitu Yesus Justus yang berbunyi “ And the words of God continued to spread “
.
Kemudian dalam Bible Odorized kingdom version di jelaskan “And the words of God continued to increased” dan firman tuhan (menyebar,bertambah) ..!! firman Tuhan ini yang dimaksud adalah Yesus. Firman Tuhan yang tadinya satu bertambah dengan kelahiran putra pertama Yesus.
Kemudian di jelaskan lagi pada tanggal 10 april tahun 44M lahirlah anak Yesus yang ke tiga yang tidak di jelaskan namanya.dan anaknya yang ke 2 tidak ada informasi.
Selanjutnya pada malam selasa 17 maret 50M, 17 tahun setelah resepsi dengan Maria Magdalena yesus menikah untuk yang kedua kalinya dengan Lydia
.Jum’at 22 september 30M pernikahan pertama (Kawin gantung)
Kamis 19 maret 33M Pernikahan Kedua dengan Maria Magdalena
selasa 17 maret 50M Pernikahan ketiga dengan Lydia
.Kalau orang yang mempercayai tentang penyalipan Yesus maka dia tidak akan percaya begitu saja, karena tanggal 19 maret 33M adalalh malam Yesus di salib. Ini harus di jelaskan tentang benarkah Yesus di salib ? dalam Qur’an juga telah dijelaskan tentang hal ini.•
Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah*”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.(Qur’an An Nisaa 157.)* Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu
.Dalam ayat itu ada dua penjelasan yaitu pertama yang di serupakan orangnya,artinya Yesus tidak di salib,melainkan yang di salib adalah orang lain yang serupa dengan Yesus.kemudian pemahaman yang ke dua adalah diserupakan peristiwanya.artinya benar Yesus di salib, tapi tidak mati.Cuma salib salib-an doing. Dan akhirnya di selamatkan dan mati secara alamiah. Dalam naskah laut mati berhubungan dengan pemahaman yang ke dua ini.bahwa yesus tidak disalib dan mati secara ilmiah. Berdasarkan Naskah Laut mati tidak ada data tentang kapan Yesus meninggal.oleh karena itu tidak di bahas dalam hal ini. Tetapi tentang pernikahan, dan tentang anak Yesus ini ada dalam Naskah Laut Mati, dan data2 yang ada dalam Alkitab. Oleh karena itu di bahas dalam Kajian Ilmiah ini
.
Mengapa peristiwa ini disembunyikan oleh Pihak gereja,karena kalau peristiwa Yesus menikah dan punya anak,pasti nantinya punya cucu juga,maka kalau tadinya hanya ada 1 Tuhan kemudian ada bertambah banyak. Maka akan timbul pertanyaanya anak2 cucu Tuhan ini juga apakah bias disebut Tuhan …? Ini akan menjadi masalah yang sangat besar sekali bagi kaumnya
.
Dalam Lukas pasal 24 “ sementara mereka bercakap2 tentang hal itu Yesus tiba2 berdiri diantara mereka dan berkata Assalamualaikum kepada murid2nya, mereka terkejut dan takut ..!!! akan tetapi Yesus berkata ‘apa sebabnya timbul keragu raguan dalam hatimu ? lihatlah tanganku, lihatlah kakiku, aku sendiri ini belum mati, karena kalo saya mati saya sudah jadi hantu gentayangan “ ini berarti karena Yesus tidak mati di tiang salib oleh karena itulah murid2nya kaget dan takut melihat kehadiranya. Karena mengira bahwa Yesus telah mati
.
Bagian 1
Penemuan tulisan-tulisan tangan berbahasa Ibrani dan Aramaik kuno di propinsi Qumran, paska Perang Dunia II telah memicu antusiasme para Ahli Sejarah Kitab Suci untuk mendapatkan informasi tentang naskah-naskah tersebut yang diharapkan dapat memberikan jawaban atas misteri dari periode penting dalam sejarah umat manusia. Hal itu tentu saja sangat beralasan mengingat bahwa naskah berbahasa Ibrani paling kuno yang ada saat ini dari Kitab-kitab Perjanjian Lama berasal dari abad ke-10 M. Selain bahwa naskah-naskah tersebut menyimpan perbedaan-perbedaan cukup besar jika dihadapkan dengan naskah-naskah septuagintal Yunani yang berhasil diterjemahkan di Aleksandria pada abad ke-13 SM. Manakah di antara kedua naskah yang paling sahih dalam hal terjadinya perbedaan? Manakah di antara keduanya yang paling dapat diandalkan? Tidak hanya terbatas pada Jemaat-Jemaat Yitzrael, bahkan Gereja-Gereja Kristen Yunani, mengakui Perjanjian Lama sebagai bagian dari Kitab Suci mereka. Sementara umat Kristen hingga abad ke-10 M, mengandalkan naskah Septuaginta (naskah Yunani, pent) dan setelah itu mereka beralih – kecuali Gereja Yunani Timur- ke naskah Ibrani pada awal abad yang sama.
Sebagaimana sumber-sumber yang sampai kepada kita tentang al-Masih, semuanya berasal dari tulisan-tulisan yang disusun pada setengah abad semenjak waktu yang ditentukan sebagai saat wafatnya Yesus. Dan tidak terdapat satu naskahpun – meskipun sedikit – dari sumber-sumber sejarah masa kini yang menyebutkan secara pasti periode yang dikatakan bahwa Yesus pernah hidup di masa itu.
Bahkan sebaliknya, Kitab-kitab Perjanjian Baru sendiri – sebagai rujukan satu-satunya tetang kehidupan Yesus­memberikan kepada kita inforamsi yang kontradiktif berkenaan dengan kehidupan dan kematian Yesus. Injil Matius menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Herodus, yang mangkat pada tahun ke-4 SM. Sedangkan Injil Lukas menetapkan kelahiran al-Masih pada masa sensus penduduk oleh Romawi, yakni tahun ke-enam kelahiran al-Masih. Perbedaan juga muncul berkenaan dengan masa berakhirya kehidupan al-Masih di bumi. Berdasarkan keterangan-keterangan yang didapat dari kitab-kitab Injil, ada yang menetapkan pada tahun ke­30, tahun ke-33 dan ada pula yang menetapkannya pada tahun ke-36.
Sementara keyakinan terdahulu menegaskan bahwa para penulis Injil itu adalah para murid dan sahabat yang hidup semasa al-Masih, dan mereka menjadi saksi hidup atas maklumat yang mereka tulis. Akan tetapi, saat sekarang ini menjadi jelas bahwa tidak seorangpun dari para penulis Injil itu yang pernah bertemu Yesus. Para penulis itu tanpa terkecuali bersandar pada riwayat-riwayat yang mereka dengar dari orang lain atau dari penafsiran-penafsiran mereka terhadap tulisan-tulisan kuno.
Berdasarkan pada kenyataan ini, maka penemuan tulisan-tulisan kuno yang mendahului atau semasa dengan zaman kehidupan Yesus di kawasan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Jerusalem, yang disebut-sebut sebagai kota tempat meninggalnya al-Masih, telah membangkitkan kembali harapan untuk menemukan sumber-sumber pengetahuan untuk menyingkap tabir misteri dan hakikat persoalan dalam sejarah institusi agama Kristen dan keterkaitannya dengan jemaat-jemaat Yahudi yang ada pada masa itu.
Antusiasme menjadi bertambah besar semenjak dipublikasikannya bagian­bagian awal manuskrip pada tahun enam puluhan. Maka jelaslah bahwa tulisan-tulisan tangan itu berkaitan erat dengan kelompok Judeo-Kristen yang dikenal sebagai Kaum Esenes, yang memiliki seorang guru bijak dengan sifat dan karakter yang tidak berbeda dengan al-Masih. Namun sayang bahwa antusiasme yang muncul di kalangan para ilmuan sejarah kitab suci dan para pembaca awam justru menimbulkan rasa cemas dan khawatir dari pihak otoritas agama dan institusi-institusi Yahudi maupun Kristen. Alasan kecemasan itu tidak berhubungan dengan rasa takut bahwa informasi yang berhasil diketemukan akan menguatkan keimanan orang-orang muslim, sebab sejatinya bahwa tulisan-tulisan itu merupakan tulisan keagamaan kuno.
Namun kecemasan itu lebih mengarah pada kekhawatiran akan terjadinya penyelewengan dan perubahan yang tidak saja berkenaan dengan hakikat sejarah, tetapi juga meyangkut penafsiran teks-teks keagamaan berikut maknanya.
Berdasarkan alasan demikian ini, maka semenjak pemerintah Israel menduduki kota Jerusalem Lama paska Perang Juni 1967, usaha-usaha penerbitan masuskrip Laut Mati secara praktis terhenti. Sementara di sana masih tersisa lebih dari separoh yang belum sempat diterbitkan.
Bahkan lebih dari itu, pemerintah Israel berupaya untuk membungkam suara-suara yang datang dari segala penjuru -yang paling lantang justru dari para ilmuan Israel sendiri-. Untuk berkelit dari desakan terus­ menerus itu, pemerintah Israel merencanakan sebuah aksi simbolis. Pihak berwenang di Depertemen Arkeologi Israel mengirimkan gambar-gambar potografi yang diklaim sebagai telah mewakili seluruh naskah yang ada di musium Rockefeller di Jerusalem, kepada Universitas Oxford di Inggris dan kepada sebuah universitas di Amerika Serikat. Selanjutnya pemerintah Israel berpura-pura seolah-olah geram dan melancarkan aksi protes ketika universitas yang dimaksud menerjemahkan dan mempublikasikan gambar-gambar photografi manuskrip tersebut tanpa izin resmi dari pemerintah Israel.
Drama simbolis pemerintah Israel ini, agaknya dimaksudkan untuk memberi kesan seolah-olah semua naskah manuskrip telah diterjemahkan dan dipublikasikan, sehingga dengan demikian tidak akan ada lagi alasan pihak manapun untuk mendesak pemerintah Israel agar memperlihatkan semua naskah kuno yang ada di tangannya.
Bisa dipastikan bahwa di sana masih ada sejumlah naskah yang potongan­potongannya masih belum terpublikasikan, dan oleh pihak-pihak tertentu sengaja dirahasikan keberadaannya, agar dengan demikian ia akan dilupakan kembali oleh sejarah. Akan tetapi, bagian yang telah dipublikasikan sebelumnya, cukup untuk memberikan penjelasan kepada kita apa sejatinya misteri yang oleh pihak tertentu sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang hendak kita coba untuk mengungkapnya pada bahasan-bahasan berikut.
Manuskrip Laut Mati yang dimaksud adalah sekumpulan tulisan tangan kuno yang berhasil diketemukan antara tahun 1947 – 1956 di dalam gua­-gua tersembunyi di pegunungan yang terletak di sebelah barat Laut Mati, antara lain kawasan Qumran, Muraba’at, Khirbat, Mrd, Ein Jeda dan Masada.
Penemuan tersebut, khususnya yang berasal dari wilayah Qumran atau Umran, wilayah Tepi Barat Jordan yang berjarak hanya beberapa kilometer selatan kota Yerikho (Areeha), semenjak setengah abad yang lalu, telah membawa dampak sangat dalam pada pola pikir peneliti-peneliti Yahudi dan Kristen di seluruh dunia. Selanjutnya penemuan-penemuan spektakuler itu, secara pasti, telah mengakibatkan terjadinya perubahan pada banyak struktur kepercayaan yang selama ini diyakini di Palestina. Meski demikian, kita masih berada di awal langkah sehingga belum bisa diharapkan untuk mendapatkan hasil-hasil yang sempurna, kecuali apabila seluruh naskah yang ada berhasil dipublikasikan dan difahami maknanya oleh para peneliti.
Ketika Perang Dunia II hampir reda, tepatnya pada bulan Pebruari tahun 1947, ditemukan gua pertama dekat Laut Mati. Ketika itu Palestina di bawah perwalian Inggris dan Jerusalem masih dalam genggaman rakyat Palestina. Awalnya, Muhammad Ad-Dib, seorang anak gembala kehilangan seekor domba miliknya. Ia berasal dari suku Ta’amirah yang mendiami wilayah yang membentang dari Jerusalem hingga tepian Laut Mati. Dalam usaha menemukan dombanya yang tersesat, anak gembala itu naik ke sebuah batu cadas.
Dari tempat itu ia melihat celah sempit dari sebuah tebing yang berhadapan dengan lereng gunung. Dipungutnya sebuah batu, ia lemparkan batu itu ke dalam gua dan sekonyong­-konyong terdengar beturan batu yang dilemparkannya dengan benda-benda yang tampaknya terbuat dari bahan tembikar. Gembala kecil itu kemudian menaiki lereng gunung dan mengintip dari atas. Dalam suasana remang-remang, Muhammad menyaksikan sejumlah perabot dari tembikar yang tersusun rapi di lantai gua. Esok paginya, Muhammad kembali ke gua diikuti beberapa orang kawan. Dan benar, di dalam gua itu mereka menemukan seperangkat perabot dari tembikar dan tujuh gulungan tulisan tangan.
Dalam waktu singkat, naskah manuskrip tulisan tangan itu telah dipamerkan untuk dijual oleh pedagang barang antik di Jerusalem, bernama Kando. Ia membeli barang itu dari seorang penduduk Ta’amirah. Athanasius Samuel, Kepala Biara Katolik Saint Markus di Swiss yang pada saat itu sedang berada di Jerusalem membeli 4 buah manuskrip, sedangkan 3 buah lainnya dibeli oleh Profesor Eliezer Sukenik dari University of Hebrew di Jerusalem.
Ketika Perang Arab – Israel berkecamuk, menyusul proklamasi berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, Atanasius khawatir akan nasib naskah-naskah kuno yang dibelinya. Ia berniat mengirimkan ke-empat naskah itu ke Amerika Serikat untuk dijual di sana. Namun akhirnya naskah-naskah itu dibeli oleh Yigael Yadin -anak Profesor Sukenik­dengan harga seperempat juta US dollar atas nama Hebrew University di Jerusalem. Dengan demikian, tujuh naskah temuan pertama itu berada dalam kepemilikan Hebrew University di Israel.
Ketika dicapai kesepakatan damai Arab-Israel pada 7 Nopember 1949, kawasan Qumran dan sepertiga bagian utara wilayah Laut Mati menjadi wilayah teritorial Kerajaan Hashemit Jordania, sehingga dengan demikian pihak berwenang di Jordan dapat dengan leluasa melancarkan rangkaian ekspedisi arkeologis guna melacak keberadaan manuskrip kuno yang masih tersisa. Meskipun di pihak lain warga Ta’amirah merahasiakan keberadaan gua­gua misterius itu, namun pada akhirnya pihak berwenang Jordan berhasil menemukannya pada akhir bulan Januari 1949.
Menyusul penemuan lokasi gua-gua Qumran, pihak berwenang Jordan segera melancarkan ekspedisi pencarian di dalam gua-gua tersebut. Di bawah pengawasan G.L. Harding, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yang yang menjabat sebagai Direktur Departemen Arkeologi Jordan bersama Pendeta Roland de Vaux direktur French Dominican I’Ecole Biblique, di Jerusalem Timur, ekspedisi itu berhasil menemukan ratusan potongan-potongan kecil di dalam gua berikut benda-benda kuno dari tembikar, kain dan benda-benda dari kayu. Benda-benda antik tersebut tentu sangat membantu upaya menentukan masa sejarah tulisan-tulisan tangan dari zaman kuno itu.
Namun sayangnya, ekspedisi kali ini tidak dilanjutkan hingga mencakup wilayah Khirbat – dataran di bawah lokasi gua- kecuali pada bulan Nopember 1951, di mana diketemukan puing-puing perkampungan kuno yang didiami oleh para pengikut sekte Esenes, di dalamnya juga diketemukan benda­benda kuno romawi antara lain; kepingan uang logam, yang dari masa pembuatannya mengindikasikan bahwa gua-gua tersebut dihuni oleh orang-orang tertentu hingga berkobarnya gerakan pemberontakan Yahudi melawan penguasa Romawi antara tahun 66 – 70 M, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Jerusalem dan diusirnya bangsa Yahudi dari kota tersebut dan wilayah-wilayah lain di sekitar Jerusalem.
Karena tamak untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi, penduduk Ta’amirah menjelajahi hampir seluruh kawasan tepi Laut Mati guna menemukan manuskrip-manuskrip lain yang diperkirakan masih tersembunyi di gua-gua wilayah pegunungan. Pada bulan Nopember 1952, seorang warga Badui Ta’amirah berhasil menemukan gua lain yang tersimpan di dalamnya sejumlah besar gulungan manuskrip yang telah lapuk dan menjadi potongan­potongan kecil. Ia kemudian menjualnya kepada pihak berwenang di Jordan. Cara pencarian yang dilakukan oleh penduduk Ta’amirah itu kemudian ditiru oleh pemerintah Jordan untuk melakukan eksplorasi di gua­gua Laut Mati dalam upaya menemukan naskah­naskah yang masih tersisia. Puncaknya, pada tahun 1965, ditemukan sekumpulan gua yang terdiri dari dua belas buah, juga di wilayah Qumran. Gua-gua baru yang berhasil ditemukan itu selanjutnya diberi nomor sesuai urutan penemuan. Warga Ta’amirah menemukan gua nomor 1, 4, dan 6, sedangkan tujuh gua laiinnya ditemukan oleh pihak berwenang Jordan.
Di pihak lain, Athanasius -setelah melakukan tes kelayakan arkeologis naskah-naskah Laut Mati­telah memberil
Pater De Voux, selanjutnya ditunjuk menjadi Penanggung jawab Ekspedisi Arkeologis Jordan dalam upaya menemukan naskah-naskah kuno di Qumran, merangkap Penanggung Jawab proyek penyiapan dan penerjemahan Naskah. Oleh de Foux, potongan­potongan naskah yang berhasil diketemukan di Gua Nomor-1 diserahkan kepada Dominique Partolemi dan Millick, keduanya patner kerja de Foux di French Dominican I’Ecole Biblique. Penerbitan naskah terjemahan dilakukan oleh Oxford University pada tahun 1955. Namun sebelum itu, pemerintah Jordan telah terlebih dahulu membentuk I
Menyusul sesudah itu, pada tahun 1961, terjemahan manuskrip yang diketemukan di gua kawasan Muraba’at, arah selatan Qumran, oleh Josef T. Milik, telah dipublikasikan pula. Bagian keempat dari manuskrip Muraba’at yang berisikan kitab-kitab Mazmur yang berasal dari temuan di gua nomor 11 itu dipublikasikan pada tahun 1965. Sedangkan bagian kelima yang merupakan potongan-potongan yang berasal dari gua nomor 4 diterbitkan pada tahun 1968.
Pada perkembangan berikutnya, diketemukan pula manuskrip-manuskrip kuno di gua-gua lain di luar kawasan Qumran, antara lain di wilayah Mird, arah barat daya Qumran, Muraba’at (arah tenggara Qumran) dan Masada, sebuah benteng kuno Yahudi di selatan Laut Mati yang dikuasai pemerintah Israel. Dalam usaha menemukan manuskrip-manuskrip kuno itu, penduduk Qumran tidak puas dengan pencarian di Qumran saja, mereka bahkan telah menjelajahi hampir seluruh kawasan pegunungan yang membentang sepanjang kawasan pantai Laut Mati. Pada bulan 0ktober tahun 1951 lagi-lagi seorang warga Badui Ta’amirah menemukan sejumlah manuskrip dalam bahasa Ibrani dan Yunani di sebuah gua di kawasan oase Muraba’at, kurang lebih 15 km selatan gua Qumran yang pertama, lalu ia menjual naskah temuan itu kepada pihak berwenang Jordan. Pada saat yang sama, sejumlah warga Ta’amirah lainnya menemukan sebagian tulisan-tulisan kristiani di wilayah Mird, dekat Qumran, di antaranya tertulis dalam bahasa Suryani. Sebuah tim ekspedisi yang beranggotakan para arkeolog Israel di bawah pimpinan Yigael Yadin, juga melakukan pencarian naskah kuno antara tahun 1963 – 1965, khususnya di bekas-bekas peninggalan di benteng Masada, dalam wilayah kekuasaan Israel, arah timur laut kota Arikha (AI-Khalil), dan berhasil menemukan beberapa buah naskah kuno. Namun yang menjadi sorotan kita di sini adalah tulisan-tulisan kuno yang berasal dari Qumran, yang diyakini merupakan peninggalan orang­orang sekte Esenes, bukan tulisan-tulisan Yudaisme dan Kristen yang ditemukan di luar Qumran.
Pecahnya Perang Arab – Israel tahun 1967 menyebabkan jatuhnya wilayah Tepi Barat ke dalam cengkeraman pemerintah pendudukan Israel, begitu juga museum Jerusalem, tempat di simpannya manuskrip-manuskrip kuno. Tidak ada yang terlepas Jari penguasaan pihak berwenang Israel selain sebuah manuskrip tembaga, sebab pada saat itu, naskah berada di Amman, Jordan. Dan semenjak saat itu, semua aktifitas publikasi naskah kuno praktis terhenti.
(Footnotes)
1. Pada saat bahasa Yunani menjadi bahasa yang umum dipakai di wilayah Mediteranian, Kitab Perjanjian lama-Bible berbahasa Ibrani- kurang komperhansif bagi sebagian besar masyarakat. Karena alasan ini, para sarjanaYahudi menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama dari bermacam-macam teks Ibrani juga dari fragmen-fragmen berbahasa Aramaik, ke dalam bahasa Latin, inilah yang disebut “SEPTUAGINT”, lihat Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD-Room


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar